.quickedit{ display:none;

Selasa, 02 Desember 2014

Jokowi di Mata Rakyat

Saya adalah rakyat dan menggunakan hak pilih dalam pemilu. Tentunya berhak memberi komentar atas jalannya pemerintahan di republik tercinta saat ini. Saya memilih Jokowi, tapi setelah beliau menjadi presiden tentunya ini bukan lagi tentang Jokowi ataupun Prabowo. Melainkan melibatkan kepentingan orang banyak. Berbicara tentang kepentingan orang banyak, tentunya kita mengharapkan sosok pemimpin yang mampu atau setidaknya memiliki kapasitas dalam mengemban amanah besar menyatukan beragam kepentingan rakyat dalam satu wadah tujuan. Indonesia dan Pancasila. Indonesia merupakan tujuan terbesar itu sendiri sementara Pancasila adalah rambu-rambu dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut.

Jokowi, kehadiran seorang pemimpin yang membius mata orang banyak karena sosoknya yang terkesan kontroversial. Kebiasaannya memimpin tidak seperti banyaknya pemimpin negeri ini. Blusukan merupakan kebiasaan memimpin beliau yang langsung meninjau ke lapangan tentang kondisi rakyatnya, infrastruktur, pelayanan publik dan lain sebagainya. Tentunya hal ini membawa harapan baru bagi kita, kerinduan akan hadirnya seorang pemimpin yang merakyat karena hakikatnya pemimpin itu dari rakyat. Jika ada yang pro tentu juga ada yang kontra. Gaya kepemimpinan blusukan Jokowi selain mendapatkan pujian juga berbuah kecaman dan kritikan. Banyak yang mengatakan bahwa Jokowi melanggar prosedur pemerintahan, bahkan hanya sekedar melakukan pencitraan.

Terlepas dari semua itu, kehadiran Jokowi membawa angin segar akan kelahiran Indonesia yang "baru". Jokowi bukan hanya milik DKI, ia milik Indonesia. Meski telah menjabat presiden bukan berarti tanggung jawabnya atas DKI lenyap. Malah bertambah dengan masuknya wilayah dan daerah lain dalam tanggung jawab beliau. Mengatasi kemacetan dan banjir di DKI sama halnya dengan mengurut benang kusut. Percuma jika pemerintah telah melakukan banyak upaya tetapi warganya tetap membuang sampah sembarangan, menambah koleksi kendaraan, dan menumpuk sikap ketidakpedulian. Banjir dan kemacetan di DKI juga bukan satu-satunya masalah dan tanggungan beliau sebagai pemimpin negeri ini.


Setelah dilantik sebagai presiden, menteri yang ditunjuk sebagai kabinet kerja beliau pun diisi oleh sebagian orang yang kurang lebih sama nyentriknya dengan beliau. Bahkan hingga pengambilan kebijakan dengan menaikkan harga BBM dinilai tidak pro rakyat. Saya setuju belaiu menaikkan harga BBM dngan mengalihkan subsidi ke sektor lain. Tetapi, efek domino dari kenaikkan harga BBM tidak pernah bisa dihindari. Harga-harga pun juga ikut naik, mulai dari bumbu dapur dan lain sebagainya. Asumsi bahwa subsidi BBM hanya akan membuat rakyat malas tidak sepenuhnya benar. Mengingat jumlah rakyat miskin di negeri ini masih dalam hitungan jutaan, dan keputusan menaikkan harga BBM justru akan semakin menyulitkan keadaan mereka. Untuk mengurus program kartu pintar Jokowi perlu tahapan-tahapan dan pendataan. Hal ini pun masih sering salah sasaran. Meski tingkat penerapan fungsi dari kartu pintar mencapai 99% dan sisa 1 %, itu tidak bisa dikatakan berhasil. Anda tidak boleh mengabaikan nyawa dan kepentingan meski hanya satu orang sekalipun dari warga negara anda.

Satu pesan saya pak, mewakili rakyat Indonesia. Kepala boleh sama-sama hitam, tetapi hati hanyalah tuhan yang tahu. Sekarang masalahnya bukan di rakyat karena saya yakin bapak telah mempertimbangkan hal ini dengan sangat matang. Masalah utama terletak pada mereka yang memegang kepentingan lebih besar, dan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Selamat berjuang, semoga Indonesia sukses untuk kepemimpinan bapak lima tahun mendatang. :)

Tidak ada komentar: